~eyeshore

elisa christine pago, 20th, Indonesian, i`m just an ordinary girl who didn't like something different such as emotions, feelings and so many others. likes dreaming about my obessed, doing such an interesting activities like watching, music, basketball, online, and addicted to puppies but i usually hates everythings which was different, hate the fake friends, and so many others. but in the whole i'm an interesting person. Full of laugh, smile, comedy.. Love my lord Jesus Christ, family, and who they`re caring me :)

Some of my other sites:
http://twitter.com/lishatine,
http://www.formspring.me/lissooy
http://peppergold-elisa.blogspot.com
http://www.plurk.com/lisha_frozen
http://twilightindo.ning.com/profile/ElisaChristine

January 22, 2012 7:58 am

Alienasi di Metropolitan

Jika ruang publik adalah gambaran dari jiwa warga kota, maka gambaran itu adalah  keterasingan dan diskriminasi. Jelajahilah ruang-ruang publik di kota kita dan rasakanlah sekat-sekat yang akan memerangkap kita dalam kelas-kelas sosial. Sekat yang akan mengasingkan diri dengan kemanusiaan kita sendiri.

Mari telusuri keberadaan ruang-ruang publik di kota-kota kita, khususnya di Jakarta. Kita bisa memulai dari ruang publik di sekitar rumah. Kompleks perumahan telah mendesak kampung yang egaliter. Bahkan kini muncul konsep kluster, perumahan di dalam perumahan. Artinya penyekatan semakin mengecil.

Bahkan, sekalipun tinggal di dalam kluster, banyak orang tua yang tak mengizinkan anak-anak mereka keluar rumah. Menyebabkan anak menjadi tahanan rumah. Dunia anak dan mungkin juga orangtuanya menjadi hanya sebatas pagar rumah masing-masing. Satu-satunya kesempatan mengenal masyarakat dari kelas sosial berbeda adalah melalui interaksi dengan pembantu di rumahnya. Interaksi yang tak setara karena berdasar logika majikan dan buruh.

Dari ruang rumah yang memenjara, mari kita tengok ke sekolah. Ruang tempat tumbuh anak-anak kita itu jelas semakin elitis dan mengkotak-kotakkan. Munculnya sekolah mahal jelas hanya bisa menampung anak-anak yang berpunya (the have) dan menyisihkan anak-anak miskin (the have not) dalam ruang sekolahnya sendiri; sekolah negeri atau sekolah swasta murahan yang – biasanya – tak dikelola dengan baik.

Lalu, mari kita tengok pusat perbelanjaan atau mal yang telah menjadi ruang publik baru bagi masyarakat kota. Datanglah ke mal-mal termewah kota ini. Sebutlah, misalnya, Plaza Indonesia, Senayan City, atau Mal Pondok Indah, maka kita tak akan menemukan manusia dari the have not. Kalaupun ada di sana, mereka menjelma dengan tampilan yang berbeda karena telah memoloes diri agar tampak serupa dengan kalangan the have.

“Itu bukan ruang kami. Belum pernah ke Mal Pondok Indah, apalagi ke Plaza apa tadi… Indonesia? Belum tahu di mana tempatnya,” kata Bu Mina (45), pembantu rumah tangga di Ciputat, Tangerang Selatan. Dia mengaku paling banter ke Ramayana di dekat Pasar Ciputat. Kenapa tidak pernah ke mal-mal mewah di sana? “Itu, mah, untuk orang kaya. Lagi pula untuk apa? Tak ada yang bisa dibeli,” ujar dia. Nah, mal pun jelas mengkotakkan kelas sosial, sebagaimana pasar tradisional yang identik dengan kumuh, jorok, dan tempat belanja untuk kalangan tak berpunya.

Sekarang mari kita turun ke jalanan. Di ruang publik ini, pemisahan kelas semakin kentara, mulai dari kelas pengguna sepeda motor, mobil pribadi – pun dengan berbagai kelas harga dan merek – hingga pengguna bus ataupun kereta. Sedikit anomali adalah munculnya B2W (bike to work), yang menarik kalangan berpunya untuk mengayuh sepeda ke kantor. Namun, kelas sosial tetap saja terlihat, misalnya dengan harga sepeda dan pernak-pernik pelaku B2W yang berbeda dengan penjual sayur bersepeda.

Transportasi umum yang semestinya menjadi ruang berinteraksi semua kelas sosial nyatanya justru menjadi ruang pembeda kelas. Kita mengenal kereta expres eksekutif, yang mengasumsikan penumpangnya para eksekutif dan para miskin silakan keluar. Selain itu ada juga kereta api ekonomi ber-AC (KRL Ciujung, misalnya). Penumpangnya taruhlah untuk kelas menengah. Terakhir kita mengenal kereta ekonomi atau yang biasa dikenal dengan kereta sayur. Sudah bisa diduga untuk siapa kereta ini diperuntukkan.

Padahal, di negara-negara lain, sebangsa Jerman dan Belanda, misalnya, hanya dikenal satu jenis kereta di kota, satu jenis bus kota atau trem, yang boleh dinaiki dan terjangkau harganya oleh semua kelas.

Di kota-kota kita, bahkan di dalam ruang-ruang yang sedari awal didesain untuk publik pun ternyata tak benar-benar bebas sekat. Tengoklah taman-taman kota yang tak terawat dan tak terjamin keamanannya. Adakah para kalangan berpunya mau berpesiar ke ruang terbuka kota seperti itu? Hampir-hampir warga kota Jakarta tak menemukan ruang terbuka tanpa bea masuk yang nyaman dan aman. Bahkan, beberapa taman kota identik dengan kelas sosial tertentu, misalnya Taman Lawang yang identik dengan transgender.

Sekarang, mari kita berpesiar ke rumah masa depan. Tempat kembalinya jasad kita di pemakaman umum. Bisa dibilang, inilah satu-satunya ruang kota yang masih memungkinkan berkumpulnya majikan dan buruh dalam satu area. Namun, sektarianisme mulai merambah ruang ini, misalnya, melalui munculnya pemakaman mewah semacam San Diego Hills.

7:55 am November 6, 2011 8:31 am

(Source: 10uhclock, via g0lfff)

8:30 am
bicpen:

czae: how is this possible? Because we don’t understand what the possibilities are.

bicpen:

czae: how is this possible? Because we don’t understand what the possibilities are.

8:28 am 8:28 am 8:25 am

Bill, Kristen, Rob and Taylor at TwiCon, November 5th

Bill, Kristen, Rob and Taylor at TwiCon, November 5th

(via fuckyeahtwilight)

8:25 am 8:25 am October 30, 2011 5:29 am
with jeleeeek <3

with jeleeeek <3

(Source: lukasdk)

September 2, 2011 1:14 am
"diam itu terkadang memang lebih baik :)"
June 22, 2011 1:37 am

A Million More Years !

I’m finding it hard, nobody knows
Got to hide my desperation before it shows
With no sense of time, I got it all wrong
We only ever spoke about it after you’d gone

Now I’m missing you so much
Loving you so much it hurts

A million more years if I had to wait
So you can see me
In another life time
A million more years if that what it takes
I know that you’ll find me
In another lifetime

I left it too long, I thought it would wait
I never gave a second thought and now it’s too late
I gave up too much letting you go
And all the time I think about how you need to know

How I’m missing you so much
Loving you so much it hurts

And It’s never gonna let me go

A million more years if that what it takes
So you can find me
In another lifetime
A million more years if I had to wait
So you can see me
In another life time

You’re so far away
I’m missing you missing you
You know that I’ll wait

I’m finding it hard, nobody knows
I got to hide my desperation before it shows
And I’m missing you so much
Loving you so much it hurts

And it’s never gonna let me go
A million more years if I had to wait
So you can see me
In another life time
A million more years if that what it takes
I know that you’ll find me
In another lifetime

In another lifetime….

May 15, 2011 1:24 pm 1:24 pm







GREATEST THING I’VE EVER READ

PARENTING. YOU’RE DOING IT RIGHT.


NEVER NOT REBLOG THIS AWESOME SHIT.

 If I wasn’t leaning against the wall, I would have fallen off my bed just then, I have not laughed in so long.

hahahahaha

LOL

cannot not reblog

GREATEST THING I’VE EVER READ

PARENTING. YOU’RE DOING IT RIGHT.

NEVER NOT REBLOG THIS AWESOME SHIT.

 If I wasn’t leaning against the wall, I would have fallen off my bed just then, I have not laughed in so long.

hahahahaha

LOL

cannot not reblog

(via unstable-kid)

1:24 pm

Remember the time I needed to escape? That was the day I realized this.

Remember the time I needed to escape? That was the day I realized this.

(via kari-shma)